Pemerintah Kabupaten Kudus kembali menorehkan prestasi di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Sebanyak 670 penari sukses mensukseskan pagelaran pemecahan Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo yang digelar di halaman Pendopo Kabupaten Kudus, Sabtu pagi, 26 September 2026.

Halaman pendopo penuh sesak oleh ratusan penari yang siap menarikan Tari Lajur Caping Kalo, tarian khas Kudus yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Pagelaran ini turut dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (Wamenbud), Giring Ganesha, beserta istri.
Ajakan Wamenbud: Lestarikan Budaya Lewat Media Sosial
Dalam sambutannya, Wamenbud mengajak anak muda Kudus untuk turut membagikan momen pagelaran Tari Lajur Caping Kalo ini ke berbagai platform media sosial, agar warisan budaya Caping Kalo semakin dikenal luas dan terus mendunia. “Kalau dulu diwariskan dari panggung ke panggung, kali ini kita bagikan lewat media sosial,” ujar Giring Ganesha.

Selain Wamenbud, pagelaran pemecahan Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo ini turut dihadiri oleh Daniel Halim dari PT. Nojorono Tobacco International, Ronal Adi Wijaya dari Yayasan Karya Bakti Nojorono, Kepala Perwakilan MURI Semarang Ari Andriyani, serta Bupati Kudus Sam’ani Intakoris beserta jajarannya.
Filosofi dan Sejarah Tari Lajur Caping Kalo
Tari Lajur Caping Kalo merupakan salah satu tarian khas Kudus yang menggambarkan proses pembuatan Caping Kalo dari awal hingga akhir. Tarian ini lahir dari kolaborasi penciptaan antara Balai Budaya Rejosari dengan Yayasan Karya Bakti Nojorono.

Caping Kalo sendiri merupakan ciri khas penutup kepala perempuan Kudus zaman dahulu yang hingga kini terus dilestarikan keberadaannya, salah satunya melalui seni Tari Lajur Caping Kalo ini. Tarian ini diciptakan oleh Kinanti Sekar Rahina, seniman tari dan koreografer profesional asal Yogyakarta, dan resmi diluncurkan kepada publik pada 7 Oktober 2022.
Makna di Balik Setiap Gerakan
Tari Lajur Caping Kalo mengandung nilai-nilai luhur yang merefleksikan kehidupan masyarakat Kudus, khususnya kaum perempuan. Gerakan dalam tarian ini mengadaptasi proses menganyam bambu dan daun rumbia yang rapat serta halus, menyimbolkan pentingnya ketekunan dalam menjalani kehidupan.


Istilah “lajur” sendiri mencerminkan barisan dan kerja bersama yang menggambarkan semangat gotong royong, kerukunan, serta sifat guyub masyarakat Kudus. Tarian ini menjadi simbol penghormatan kepada sosok perempuan Kudus yang anggun, mandiri, namun tetap memiliki keteguhan hati dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Pementasan tarian ini merupakan wujud suka cita sekaligus upaya nyata untuk melestarikan tradisi lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian Peringatan HUT ke-477 Kabupaten Kudus
Pagelaran Pemecahan Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan hari jadi Kabupaten Kudus yang ke-477, dengan mengusung tema “Urup Nguripi”. Tema ini merepresentasikan semangat masyarakat Kudus yang senantiasa produktif, peduli, guyub, serta memegang teguh nilai-nilai kebersamaan dan tradisi — seperti filosofi Gusjigang warisan Sunan Kudus — untuk saling menguatkan dalam berbagai sektor.


Urup Nguripi Kudus adalah semangat untuk membuat Kudus terus hidup melalui karya, budaya, dan kebersamaan.
Kenali budayanya, pahami sejarahnya, dan lestarikan warisannya.
Salam Pesona Indonesia
Wonderful Indonesia
Kontributor: Yasir Yafiat (GenPI Kudus)
