Dugderan 2026: Dentuman Sejarah yang Menyatukan Semarang Menyambut Ramadan

Semarang punya cara sendiri untuk menyambut Ramadan.

Bukan sekadar pengumuman resmi, melainkan sebuah tradisi yang telah hidup sejak tahun 1881 M. Tradisi itu bernama Dugderan, warisan budaya yang lahir dari sejarah panjang, menyatukan perbedaan, dan hingga kini terus dirayakan dengan penuh makna.

Dari sudut pandang kami, GenPI Kota Semarang, Dugderan bukan hanya agenda budaya tahunan. Ia adalah denyut kota. Ia adalah momen ketika sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan bertemu dalam satu dentuman yang sama.

Di masa lalu, umat Islam kerap memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadan. Situasi itu mendorong Bupati Semarang saat itu, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat, untuk mengambil langkah tegas. Ia menetapkan bahwa dimulainya puasa Ramadan ditandai dengan dibunyikannya bedug Masjid Agung dan meriam bambu di halaman kabupaten, masing-masing sebanyak tiga kali.

Sebelum dentuman itu terdengar, terlebih dahulu digelar upacara di halaman kabupaten. Sejak saat itulah, masyarakat Islam di Semarang memiliki satu penanda yang sama. Perbedaan mereda, tradisi pun lahir dan terus diwariskan lintas generasi.

Makna di Balik Kata “Dugder”

Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug dug” dan suara meriam yang menyusul, “der”. Dari sanalah istilah “Dugder” atau “Dhug Der” muncul, sebuah simbol auditif yang begitu lekat di ingatan warga.

Setiap kali bunyi itu kembali terdengar, masyarakat tahu: Ramadan telah dekat.

Dan bagi kami yang tumbuh bersama narasi kota ini, suara itu bukan hanya penanda waktu. Ia adalah pengingat akar, bahwa Semarang dibangun oleh kebijaksanaan dan semangat menyatukan.

Warak Ngendog, Simbol Multikultural Kota

Tak lengkap membicarakan Dugderan tanpa menyebut Warak Ngendog.

Maskot mitologi kebanggaan Semarang ini bukan sekadar hiasan arak-arakan. Ia adalah simbol akulturasi budaya yang begitu kuat. Bentuknya merupakan perpaduan unsur Tionghoa (naga), Arab (burak), dan Jawa (kambing). Sebuah representasi nyata bahwa Semarang tumbuh dari pertemuan budaya yang harmonis.

Namanya pun sarat makna. “Warak” berasal dari bahasa Arab wara’ yang berarti suci, sedangkan “ngendog” dalam bahasa Jawa berarti bertelur. Secara filosofis, Warak Ngendog dimaknai sebagai pahala atau hasil kebaikan yang “menetas” setelah seseorang menjaga kesucian diri selama Ramadan.

Bagi GenPI, Warak Ngendog bukan hanya ikon visual. Ia adalah cerita yang harus terus dirawat dan dikenalkan pada generasi hari ini, karena keberagaman adalah kekuatan, bukan perbedaan yang memisahkan.

Andum Ganjel Rel: Berbagi Sebelum Berpuasa

Dalam rangkaian Dugderan, ada pula tradisi Andum Ganjel Rel. “Andum” dalam bahasa Jawa berarti membagi. Tradisi ini berupa pembagian roti ganjel rel, yaitu kue khas Semarang kepada masyarakat, biasanya disertai pembagian air khataman Al-Qur’an.

Roti ganjel rel dimaknai sebagai simbol penolak gangguan, agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lancar. Di titik inilah budaya dan nilai spiritual berjalan beriringan.

Suhuf Halaqah: Penanda Resmi Datangnya Ramadan

Puncak tradisi Dugderan adalah pembacaan Suhuf Halaqah.

Suhuf Halaqah merupakan dokumen resmi tertulis yang berisi pengumuman masuknya bulan Ramadan. Naskahnya berasal dari para kyai Masjid Agung dan dibacakan oleh Wali Kota di hadapan masyarakat.

Setelah pembacaan tersebut, bedug dipukul dan meriam disulut. Dentumannya bukan sekadar suara, melainkan simbol persatuan. Saat itulah Ramadan resmi dimulai.

Dan setiap kali “dug” dan “der” menggema, kami melihat lebih dari sekadar seremoni. Kami melihat kota yang setia pada sejarahnya. Kota yang memilih merawat tradisi sebagai bagian dari identitasnya.

Lebih dari Sekadar Festival

Hari ini, Dugderan berkembang menjadi perayaan budaya yang meriah. Ada kirab, pasar rakyat, pertunjukan seni, hingga parade Warak Ngendog yang selalu dinanti anak-anak.

Namun di balik kemeriahan itu, ada pesan yang jauh lebih dalam. tentang Dugderan yang menjadi bukti bahwa perbedaan bisa dipersatukan lewat kebijaksanaan. Bahwa budaya bisa menjadi jembatan antara nilai spiritual dan kebersamaan sosial. Bahwa Semarang tumbuh dari harmoni, bukan homogenitas.

Sebagai bagian dari generasi yang mencintai kota ini, kami di GenPI Kota Semarang percaya: merawat Dugderan berarti merawat identitas. Menghidupkan kembali narasinya berarti memastikan sejarah tidak sekadar dikenang, tetapi terus dirayakan.

Dan setiap kali suara “dug” dan “der” kembali menggema, Semarang seperti berbisik pelan tentang Ramadan telah dekat. Bersiaplah, dengan hati yang bersih.

Author

+ posts

GenPI Jateng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 2 =