Gebyuran Bustaman 2026: Ketika Air, Tawa, dan Sejarah Mengalir di Gang-Gang Kota

Ada yang berbeda di sudut jalan Mataram hari ini. Sejak pagi, gang-gang sempit yang biasanya teduh berubah menjadi ruang temu yang penuh warna, suara, dan tawa yang saling bersahutan.

Dari sudut pandang kami, GenPI Kota Semarang, Gebyuran Bustaman bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah denyut kampung yang hidup, yang setiap tahunnya berhasil mengubah ruang sederhana menjadi panggung budaya.

Air memang menjadi puncak perayaan. Tapi sebelum cipratan pertama jatuh, kampung ini sudah lebih dulu meriah.

Menjelang siang, panggung kampung dibuka dengan tari kreasi anak-anak Bustaman. Gerak mereka lincah, wajahnya berbinar. Warga berkerumun, sebagian mengabadikan momen, sebagian lagi tersenyum bangga. Di sela-sela itu, waktu istirahat siang memberi jeda yang bukan untuk sepi, melainkan untuk berbagi cerita dan menikmati hidangan khas kampung.

Memasuki siang hingga sore, Sanggar Tari Pak Rujito dari Kesatrian turut mengisi panggung. Iringan musik dan tepuk tangan warga menyatu, menciptakan atmosfer yang hangat. Doorprize dibagikan, tawa pecah di berbagai sudut, dan anak-anak berlarian tanpa beban.

Lalu tibalah momen yang paling dinanti.

Arak-arakan menyusuri gang demi gang, mengundang siapa pun untuk ikut berjalan bersama. Warga, tamu, komunitas, semua melebur. Sambutan-sambutan disampaikan secara singkat, namun esensinya terasa kuat: kampung seperti Bustaman adalah wajah kota yang sesungguhnya yang hidup, guyub, dan penuh daya cipta.

Dan ketika gebyuran dimulai, batas-batas itu benar-benar hilang.

Air menyiram, tawa meledak, pakaian basah tak lagi jadi soal. Yang tersisa hanyalah rasa gembira yang tulus. Tradisi ini bukan tentang basahnya tubuh, melainkan tentang menyegarkan ingatan bahwa kota dibangun dari kebersamaan warganya.

Gebyuran Bustaman adalah bukti bahwa pariwisata tidak selalu harus megah. Ia bisa lahir dari gang sempit, dari tradisi lokal, dari inisiatif warga yang menjaga budayanya tetap hidup. Di sinilah kekuatan kampung kota yang menjadi ruang belajar tentang toleransi, kreativitas, dan kolaborasi.

Sebagai bagian dari generasi yang mencintai kota ini, kami melihat Gebyuran Bustaman bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai pengingat: merawat budaya berarti merawat identitas.

Dan di tengah guyuran air sore itu, Semarang terasa begitu hangat.

Author

+ posts

GenPI Jateng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 15 =