Air, Energi, Pangan: Mengapa Generasi Muda Penting Memahami WEF Nexus untuk Masa Depan Indonesia

Indonesia di Titik Persimpangan: Bonus Demografi dan Tantangan Global

WEF Nexus
WEF Nexus (Ilustrasi AI)

Indonesia kini berada di momen krusial. Di satu sisi, negara ini diberkahi dengan bonus demografi, kekayaan alam yang melimpah, serta cita-cita besar untuk menjadi Indonesia Emas pada tahun 2045. Namun di sisi lain, tantangan seperti perubahan iklim, kelangkaan air, ketahanan energi, dan ancaman terhadap ketahanan pangan semakin nyata dihadapi.

Ketersediaan air menjadi semakin tidak merata, transisi energi masih berlangsung, dan harga pangan seringkali berfluktuasi. Semua isu ini bukanlah masalah yang terpisah, melainkan saling berkaitan erat.

Apa Itu WEF Nexus? Sederhana Tapi Fundamental

Di sinilah konsep WEF Nexus (Water–Energy–Food Nexus) menjadi sangat krusial. Pendekatan ini, yang sering dibahas dalam forum internasional seperti World Economic Forum, memiliki relevansi yang sangat kuat bagi Indonesia. WEF Nexus mendorong kita untuk melihat keterkaitan antara air, energi, dan pangan sebagai satu sistem yang tak terpisahkan.

Oleh karena itu, generasi muda perlu memahami konsep ini, bukan di masa depan, melainkan saat ini.

WEF Nexus: Sebuah Pendekatan Sistemik

Secara mendasar, WEF Nexus merupakan cara berpikir secara sistemik.

  • Air sangat dibutuhkan untuk produksi energi, seperti pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pendinginan pembangkit listrik, dan energi geotermal.
  • Energi pun krusial untuk proses pemompaan, pengolahan, dan distribusi air.
  • Baik air maupun energi menjadi dasar utama dalam produksi pangan.

Produksi pangan global sendiri membutuhkan ribuan liter air untuk setiap orang setiap harinya. Sementara itu, permintaan pangan dunia diperkirakan akan meningkat signifikan pada 2050 seiring pertumbuhan populasi dan perubahan pola konsumsi.

Ini berarti, ketika satu sektor mengalami gangguan, sektor-sektor lainnya juga akan terkena dampaknya.

Contohnya, kekeringan dapat mengganggu operasional pembangkit listrik tenaga air. Krisis energi bisa menyebabkan peningkatan biaya produksi pupuk dan distribusi hasil panen. Kegagalan panen pun berpotensi memicu inflasi dan ketidakstabilan sosial.

WEF Nexus tidak menawarkan solusi instan, melainkan menyajikan cara pandang yang lebih terintegrasi. Tujuannya adalah agar kebijakan terkait air tidak merugikan sektor energi, dan kebijakan energi tidak melemahkan sektor pangan.

Indonesia dan Tantangan Integrasi Sistemik

Sebagai negara kepulauan dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar. Namun, pengelolaan sumber daya lintas sektor masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Beberapa wilayah di Indonesia menghadapi banjir ekstrem, sementara di waktu yang sama, wilayah lain mengalami kekeringan berkepanjangan. Di sektor energi, Indonesia tengah berupaya keras mendorong transisi menuju energi bersih. Sementara itu, ketahanan pangan tetap menjadi agenda strategis nasional.

Oleh karena itu, pendekatan WEF Nexus mulai diintegrasikan ke dalam arah kebijakan pembangunan nasional. Bappenas, bersama dengan United Nations Development Programme (UNDP), telah mendorong integrasi kebijakan air, energi, dan pangan ke dalam dokumen perencanaan jangka panjang Indonesia menuju tahun 2045.

Bahkan, telah disiapkan pula peta jalan (roadmap) serta sistem pendukung keputusan berbasis data untuk membantu pengambilan kebijakan yang lebih terintegrasi.

Hal ini menunjukkan bahwa WEF Nexus bukan sekadar konsep global semata, melainkan telah menjadi bagian dari strategi pembangunan Indonesia.

Mengapa Generasi Muda Harus Peduli?

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa generasi muda perlu memahami konsep ini?

Jawabannya cukup sederhana: karena generasi muda akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya, sekaligus menjadi penentu masa depan.

Indonesia yang kita tuju pada tahun 2045 akan dipimpin oleh generasi saat ini. Jika pengelolaan air, energi, dan pangan tidak berkelanjutan, maka bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru bisa berubah menjadi beban.

Sebaliknya, jika generasi muda memahami keterkaitan ini, maka peluang yang terbuka sangatlah besar.

1. Peluang Karier dan Inovasi Baru

Ekonomi masa depan bergerak ke arah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Sektor-sektor seperti:

  • Energi terbarukan
  • Teknologi pertanian (Agritech)
  • Manajemen sumber daya air
  • Startup yang berfokus pada ekonomi sirkular
  • Pariwisata hijau (Green tourism)

Semua sektor ini membutuhkan cara berpikir sistemik seperti yang diajarkan oleh WEF Nexus.

Generasi muda yang memiliki pemahaman tentang keterkaitan antar sektor akan lebih siap untuk menciptakan solusi-solusi inovatif.

2. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang Lebih Tangguh

Sebagai komunitas yang peduli terhadap pariwisata, kita tidak bisa memisahkan keindahan alam dari pengelolaan sumber daya yang baik. Destinasi wisata sangat bergantung pada:

  • Ketersediaan air bersih untuk penginapan (homestay) dan restoran.
  • Pasokan energi yang stabil untuk operasional pariwisata.
  • Ketersediaan pangan lokal untuk menyajikan kuliner otentik.

Jika sumber air tercemar atau langka, daya tarik wisata akan menurun. Ketidakstabilan pasokan energi dapat mengganggu pengalaman wisatawan. Jika produksi pangan tidak lestari, biaya operasional akan meningkat dan jejak karbon akan membesar.

WEF Nexus menyediakan kerangka kerja agar pembangunan destinasi wisata tidak sampai merusak fondasi alamnya sendiri. Pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) bukan hanya tren global, melainkan sebuah kebutuhan sistemik.

3. Literasi Sistemik = Keunggulan Generasi

Dunia saat ini tidak lagi bergerak dalam kesatuan yang terpisah (silo). Permasalahan lingkungan kini juga merupakan masalah ekonomi. Masalah energi berkaitan erat dengan masalah sosial. Dan masalah pangan dapat memengaruhi stabilitas nasional.

Generasi yang mampu melihat keterhubungan antar berbagai isu akan menjadi lebih adaptif dan visioner.

WEF Nexus membantu melatih pola pikir semacam itu.

Dari Konsep Global ke Aksi Lokal

Seringkali, konsep global terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, implementasinya bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

Kita bisa mulai dengan:

  • Mengurangi pemborosan air dalam aktivitas sehari-hari.
  • Mendukung produk-produk pangan lokal.
  • Menghemat energi dan memilih energi bersih jika memungkinkan.
  • Memberikan dukungan kepada destinasi wisata yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Sebagai anggota komunitas seperti GenPI (Generasi Pesona Indonesia), peran kita bisa lebih besar lagi:

  • Mengangkat cerita tentang desa wisata yang memiliki pengelolaan air yang bijak.
  • Mempromosikan ekowisata yang berbasis pada energi terbarukan.
  • Memberikan edukasi kepada para wisatawan mengenai pentingnya menjaga sumber daya alam.

Narasi positif mengenai keberlanjutan perlu terus diperkuat.

Menuju Indonesia 2045 yang Berkelanjutan

Indonesia memiliki target untuk menjadi negara maju pada tahun 2045. Namun, kemajuan tidak hanya dapat diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Kemajuan sejati adalah ketika air tetap tersedia untuk semua, energi bersih dapat diakses dengan terjangkau, dan pangan tercukupi bagi seluruh masyarakat.

WEF Nexus menawarkan sebuah kerangka agar pembangunan tidak saling “mengorbankan” satu sama lain. Tujuannya adalah agar kita tidak mengejar pengembangan energi dengan merusak sumber daya air, atau mengejar ketahanan pangan dengan mengabaikan kelestarian lingkungan.

Di sinilah generasi muda memegang peran yang sangat strategis.

Kita adalah konsumen yang turut menentukan tren pasar. Kita adalah kreator yang mampu membentuk narasi baru. Kita adalah wirausahawan yang dapat menciptakan model bisnis inovatif. Dan kita adalah pemimpin masa depan.

Berpikir Terhubung, Bertindak Nyata

Air, energi, dan pangan bukanlah isu yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan satu kesatuan ekosistem kehidupan.

Memahami WEF Nexus bukan berarti harus menjadi seorang pakar kebijakan global. Cukup dengan memulai kesadaran bahwa setiap keputusan yang kita ambil memiliki dampak berantai.

Generasi muda Indonesia tidak ditakdirkan hanya menjadi penonton perubahan. Kita bisa menjadi generasi yang berpikir sistemik — generasi yang mampu berpikir terhubung dan bertindak nyata.

Karena masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa cepat kita bertumbuh, tetapi juga seberapa bijak kita mengelola fondasi kehidupan.

Dan fondasi itu adalah: air, energi, dan pangan.

Author

+ posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − 4 =