Foto : Kebun Parijotho Alammu

Kudus, 23 Mei 2024 – Genpi Jawa Tengah bersama Mas Mbak Duta Wisata Kudus dan Genpi Kudus berkunjung ke kebun Parijotho Alammu Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Alammu sendiri di ambil dari kata “Alam Muria”, karena lokasi kebun berada di wilayah lereng gunung Muria berdekatan dengan wisata religi Sunan Muria. Secara etimologi Nama genus Medinilla berasal dari nama gubernur Mauritius pada 1820 yaitu José de Medinilla y Pineda. Pada saat itu Mauritius dikenal sebagai Kepulauan Marianne. Sementara, nama “parijata” berasal dari sebuah tembang Jawa berjudul Sinom Parijoto Gending Jawa yang digunakan oleh Sunan Muria dan Sunan Kalijaga ketika menyebarkan agama Islam di Jawa. Bagi orang Jawa, Sinom Parijoto mengajak pada pengendalian nafsu; baik berupa keinginan marah, nafsu terhadap lawan jenis, keinginan bermalas-malasan, serta nafsu makan dan tidur. (source : wikipedia.org)

Kegiatan ini di inisiasi oleh Genpi Kudus yang bertujuan untuk mengangkat potensi wisata alam yang ada di wilayah kabupaten Kudus, selain wisata alam banyak potensi UMKM yang bisa dikembangkan, karena sumber daya alam disini cukup melimpah ditambah sumber daya manusianya pun juga banyak para wirausaha.

Foto : Rumah Produksi Sirup Parijotho Alammu

Berangkat dari kediaman Triyanto R Sutardjo atau yang akrab di sapa Triyan menuju area perkebunan parijotho yang tidak jauh dari rumahnya. Tracking jalan lumayan menantang dan licin karena sehabis hujan sedari pagi, tapi itu tidak membuat kami mengeluh karena begitu sampai di kebun disambut suara kicauan burung dan gesekan dedaunan yang merdu nan harmoni. Langit biru cerah menambah indahnya suasana kebun dengan pemandangan pegunungan Muria. Melewati tanjakan yang lumayan tajam dan berkelok membuat kaki lumayan terasa pegal, tapi inilah tantangannya ketika berwisata di alam bebas. Kebun Parijotho milik pak Triyan ini berdampingan dengan kebun kopi, jadi semacam perkebunan tumpangsari yang mana satu kebun ada lebih dari satu macam tanaman.

Foto : Suasana sepanjang tracking kebun Parijotho

Sampainya di kebun, pak Triyan menjelaskan tentang asal muasal bagaimana tanaman Parijotho ini tumbuh dan berkembang, tanaman ini tidak lepas dari kisah sejarah pada masa Sunan Muria, seorang waliyullah penyebar agama islam di tanah Jawa kususnya wilayah pegunungan Muria. Terdapat tradisi lisan yang menyebutkan bahwa parijata pertama kali ditanam oleh Sunan Muria. Kapal Dampo Awang yang karam di sekitar Pulau Muria menumpahkan muatan yang telah terkumpul dari berbagai pulau di kawasan perdagangan rempah Nusantara, salah satunya adalah biji parijata. Ceceran biji parijata kemudian diambil Sunan Muria dan ditanamnya di hutan Pegunungan Muria. Saat istri Sunan Muria, Nyai Sujinah (Dewi Ayu Nawangsih) hamil dan mengidam buah masam, Sunan Muria kemudian memerintahkan para santrinya untuk mencari buah di hutan Pegunungan Muria. Para santri tersebut kemudian pulang membawa buah parijata dan menyerahkannya kepada Sunan Muria. Buah parijata diyakini dapat menyuburkan kandungan pasangan yang sulit memiliki keturunan. Bagi ibu yang sedang hamil, parijata juga diyakini dapat menjadikan janin memiliki paras rupawan. Namun untuk soal rasa buah ini memang agak sepat jika masih muda, tapi manis untuk yang sudah ranum atau matang.

Foto : Memetik buah Parijotho di kebun

Sudah puas explore kebun, kami kembali ke kediaman pak Triyan untuk istirahat dan menikmati hidangan aneka olahan buah Parijotho, ada Sirop Parijotho, Teh Celup Parijotho, Permen Parijotho, Teh Tubruk Parijotho, Keripik Parijotho dan Kombucha Parijotho.

Leave a Reply

Your email Alamat will not be published. Required fields are marked *