SEMARANG, 28 Agustus 2026 — Kalau biasanya orang Solo datang ke Semarang buat kulineran atau healing, kali ini ceritanya beda.
Solo datang membawa misi: memperkenalkan potensi pariwisata Kota Surakarta sekaligus membuka jejaring dan peluang baru di dunia pariwisata.
Misi itu diwujudkan lewat Solo Direct Selling 2026, yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta di Fullmoon Ballroom, Room Inc Hotel Semarang.

Suasananya? Para pelaku pariwisata Solo bertemu langsung dengan para “pemain” industri wisata Semarang.
Ada 10 seller yang membawa produk dan pengalaman wisata Solo. Di antaranya Zas Holiday, Solo Societe, Batik Abstrak Laweyan, Pokdarwis Kota Surakarta, ASPPI (Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia) dan Baluwarti Wellness Experience.
Di seberangnya, ada sekitar 25 buyer yang terdiri dari tour travel, OPD, dan stakeholder pariwisata.
Intinya satu: kenalan, ngobrol, cari peluang, lalu… siapa tahu jadi kolaborasi.

Solo Sekarang Bukan Cuma Kota Budaya
Ada satu pesan menarik dari Kepala Disbudpar Surakarta, Bp. Mareta Dinar Cahyono, SE, MM.
Ia menyampaikan bahwa Kota Solo telah dicanangkan oleh Wali Kota sebagai Solo Wellness City.
Ini menarik, karena wisata sekarang bukan cuma soal “sudah pernah ke mana?”
Anak muda semakin mencari pengalaman yang bikin rileks, menikmati budaya lokal, kuliner, suasana, sampai aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih nyaman.
Wellness tourism pun menjadi salah satu warna yang dibawa para seller dalam Solo Direct Selling 2026.
Jadi, Solo seolah sedang bilang: “Datang ke Solo bukan cuma buat jalan-jalan. Bisa sekalian bikin diri lebih happy.”

Solo + Semarang = Kenapa Tidak?
Yang paling menarik justru datang dari sambutan Kabid Pemasaran Disbudpar Kota Semarang, Bp. Hanry Sugihastomo, S.Sos, MM, yang mewakili Kepala Disbudpar Kota Semarang.
Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi awal kolaborasi antara Kota Semarang dan Kota Solo.
Dan sebenarnya, kenapa tidak? Semarang punya cerita sendiri. Solo juga punya kekuatan sendiri.
Kalau dua kota ini dikemas dalam satu perjalanan, wisatawan bisa mendapatkan pengalaman yang jauh lebih lengkap.
Bayangkan saja: Semarang → Solo → budaya → kuliner → wellness → pulang membawa cerita.
Bukan lagi soal “Mau Solo atau Semarang?” Tapi: “Kenapa nggak dua-duanya?”

Dari Satu Pertemuan, Bisa Lahir Banyak Perjalanan
Pada akhirnya, Solo Direct Selling 2026 bukan sekadar acara promosi. Ini adalah tentang jejaring, peluang, dan kolaborasi.
Hari ini mungkin cuma bertukar kartu nama. Besok bisa jadi bertukar ide. Lusa mungkin lahir paket wisata baru.
Dan siapa tahu, dari pertemuan di Fullmoon Ballroom pada 28 Agustus 2026, akan lahir perjalanan baru yang membawa lebih banyak wisatawan menjelajahi Solo dan Semarang.

Karena pariwisata memang paling seru kalau tidak berjalan sendirian.
Solo punya cerita. Semarang punya cerita. Sekarang tinggal bagaimana keduanya membuat cerita baru bersama.

Author
Genpi Semarang
